time after time goes by.... and I never update my blog....
sorry,, my bad....
and this... the photos of my tour
a private, public, and inspiring blog... n_n
Hari ini 28 Oktober 2010,
82 tahun yang lalu para pemuda bersumpah,
untuk Indonesia yang lebik baik....
hanya dalam beberapa hari bencana datang bertubi-tubi, mulai dari banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dan bencana moral yang tak terlihat karena tak ada yang meliput...
I Pray For You Indonesia...
for a better Nation...
kemarin saudara kami Aditya -godit Ramadhan kecelakaan,
semoga cepat sembuh kawan...
hari ini orang-orang keuangan menyebar bunga di jalan,
semoga Indonesia menjadi lebih baik...

Waduh dah lama banget ya saya ga update blog ini,
Gini deh blog, saya mau jadiin kamu tumpahan emosi saya, tempat share aja, trus buat bagi-bagi pengalaman dengan yang lain, biar kesannya ga kaku kaku amat. J
Saya mau cerita, minggu lalu, tepatnya hari jumat sore, sehabis menempelkan fingerprint di mesin yang bunyinya…tiiit..tiit, trus ada tulisan “Welcome Zaenudin Lukman” . artinya absen sore beres sekaligus mengakhiri jam kerja kami waktu itu.
Rencana yang dibuat sebelumnya adalah, pergi ke ujung selatan Pulau Sumatra, pulau yang sekarang saya tempati sebagai orang rantau untuk mendapatkan sesuap nasi, segenggam bahagia, dan seberkas sinar harapan untuk melihat orang-orang yang kita saynag tersenyum dan membatin “ saya bangga padamu”.
Lampung ya lampung, kami pergi ke lampung untuk menhadiri pernikahan saudara kami, teman bermain, teman bekerja, teman seperjuangn (hehe… ka maaf, kesannya kita seangkatan jadinya…hehe)
Tapi yang ingin saya ceritakan bukan pengalaman itu, cerita itu akan saya ceritakan di postingan selanjutnya.
Ketika saya pulang kembali ke tempat kami bekerja, saya iseng-iseng membeli sebuah buku, novel tepatnya, udah lama ngga baca buku, pikir saya waktu itu. Ya sudah akhirnya buku “ 5 cm” saya beli karena cover buku itu berwana hitam, novel inspirasi (seneng banget ni gw sama yang ini), trus ada tulisan best seller nya, berarti ada kemungkinan saya ga akan salah memilih buku, karena sebagian besar orang percaya bahwa buku ini bagus, karena itu mereka membelinya sekian banyak hingga tulisan best seller itu terpampang di cover depan novel tersebut.
Udah ah ga usah banya cingcong lagi, saya akan mengutip dua halaman yang menurut saya inti dari novel inspirasi ini.
Here we go….. !
**********************************************************************
“Taruh di sini…,” Dinda ikut meletakan telunjuk di depan keningnya.
Muka Ian tampak menyala, matanya mengkilat diterangi cahaya api unggun, “Betul! Begitu juga dengan mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu apa yang kamu mau kejar taruh di sini.” Ian membawa jari telunjuknya menggantung mengambang di depan keningnya…
“Kamu taruh di sini… jangan menempel di kening.
Biarkan…
Dia…
Menggantung…
Mengambang…
5 centimeter…
Di depan kening kamu….”
“ Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, dan keyakinan diri….”
“…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu… Cuma…”
“Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih bayak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.”
“Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja…”
“ Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya….”
“Serta mulut yang akan selalu berdoa….”
“Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan Cuma seonggok daging yang punya nama. Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan megejarnya, bukan seorang pemimpi saja, bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Tapi seorang yang selalu percaya akan keajaiban mimpi keajaiban cita-cita, dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terkalkulasikan dengan angka berapapun…. Dan kamu nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya.”
“Percaya pada… 5 centimeter di depan kening kamu.”
(Ranu Kumbolo, surga di bawah Mahameru yang dilukisakan dalam novel)
**********************************************************************
Gitu deh….
Udah-udah…. Ga usah serius gitu ah mukanya…. Dalem banget emang kata-katanya…
Tapi emang, kena banget nih kata-kata kalo situasinya lagi pas banget.
Tapi menurut saya daya tariknya bukan disitu aja.
Bagaimana mereka berteman, melawan emosi, dan mengambil pelajaran dari semua kekonyolan yang mereka buat sendiri yang membuat novel ini menarik untuk di baca.
Hope you got the point….!
Udah dulu ah, waktunya berangkat ke kantor nih, hari jum’at, senam olah raga, lalu bekerja seperti biasa…. J (eh lebih dari biasanya dink… hehe)
Seperti biasa Ghana, Kepala Cabang Sebuah perusahaan swasta terkemuka diJakarta, tiba dirumahnya pada pukul 9 malam. tidak seperti biasanya, Annisa, putri pertamanya yang baru duduk dikelas 3 SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama “kok, belum tidur?” sapa Ghana sambil mencium anaknya. biasanya Annisa memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika akan berangkat kantor pagi hari. sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Annisa berucap”aku nunggu Ayah pulang, sebab Annisa mo nanya..berapa sih gaji ayah?”
“Lho tumben, kok nanya gaji Ayah? mau minta uang lagi, ya?” “ah..enggak pengen tau aja” ucap Annisa singkat. “OK..kamu boleh hitung sendiri, setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.40.000,- setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu minggu libur, kadang Sabtu Ayah masih lembur. jadi Ayah dalam 1 bulan berapa hayooo?” Annisa berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. ketika Ghana beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Annisa berlari mengikutinya. “kalo satu hari Ayah dibayar Rp.400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp.40.000,- dong” katanya. “wah, pinter kamu. sudah sekarang cuci kaki, terus bobo’ ya” perintah Ghana
Tetapi Annisa tidak beranjak, sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, annisa kembali bertanya, ” Ayah, aku boleh pinjem uang Rp.5000,- enggak?” “sudah, nggak usah macam-macam lagi, buat apa minta uang malam-malam begini? ayah capek, dan mau mandi dulu, tidurlah”. “tapi Ayah…” Kesabaran Ghana pun habis. ” Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Annisa. anak kecil itupun berbalik menuju kamarnya. usai mandi, Ghan nampak menyesali hardiknya. ia pun menengok Annisa dikamar tidurnya. anak kesayangannya itu belum tidur. annisa didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp.15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Ghana berkata, “maafkan Ayah, Nak, Ayang sayang sekali sama Annisa. tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? kalau mau beli mainan, besok kan bisa. jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun papa kasih” jawab Ghana
“Ayah, aku enggak minta uang. aku hanya pinjam. nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”. “iya, tapi buat apa? tanya Ghana lembut.
“aku menunggu Ayah dari jam 8. aku mau ajak Ayah main ular tangga. tiga puluh menit aja. mama bilang kalo waktu ayah itu berharga. jadi, aku mau ganti waktu ayah, aku buka tabunganku, hanya Rp.15.000,- tapi karena Ayah bilang satu jam dibayar Rp.40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp.20.000,- tapi duit tabunganku kurang Rp.5000,- makanya aku mau pinjam dari ayah” kata polos Annisa
Ghana pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. dia baru menyadari ternyata limpahan harta yangdia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.
Tunaikan hak sesuai tempatnya. paling tidak hak Tuhan kita, hak fisik kita hak sesama manusia (kiriman email kawan)